Senin, 25 Mei 2009

BUAH PIKIRAN ANDREA HIRATA DALAM NOVEL LASKAR PELANGI

Oleh: Isma Tantawi*


I. Pendahuluan

Karya sastra memiliki dua aspek kepentingan bagi pembacanya. Pertama, aspek hiburan, karya sastra dapat memberikan kenyamanan dan kenikmatan bagi para pembacanya, untuk menhilangkan rasa susah kata penyair Latin Horatius, (Ahmad Samin Siregar, 1979: 33). Oleh karena itu, dapat diperkirakan karya sastra akan tetap berjaya menjadi sumber bacaan bagi semua lapisan usia di semua bangsa di permukaan bumi ini. Di samping itu novel atau karya fiksi lebih banyak dikarang dan diterbitkan dibandingkan karya ilmiah, (Edy Zaqeus, 2008 : xx).

Aspek kedua, untuk menyampaikan pesan yang berharga bagi pembacanya. Melalui membaca karya sastra, pembaca dapat mengambil manfaat yang berhubungan dengan kehidupan. Misalnya mengambil nilai pendidikan, moral, agama, kemasyarakatan, bahkan karya sastra dapat menjadi salah satu acuan sumber sejarah yang hendak dituliskan untuk suatu kaum atau bangsa.

Karya sastra merupakan gambaran totalitas dari kehidupan masyarakat yang melahirkannya. Apa saja yang ditemui di dalam karya sastra tidak pernah terlepas dan diambil dari masyarakat (Thomas Warton, 1974: 1). Setelah itu para pencipta karya sastra (sastrawan) dapat menggunakan pengalaman, pikiran, dan proses imajinasinya sehingga karya itu menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, karya sastra tidak dapat dipisahkahkan dari masyarakat yang melahirkannya.




II. Novel Laskar Pelangi

Novel Laskar Pelangi terbit dan dicetak pertama kali pada tahun 2005 dan pada tahun 2008 ini sudah mengalami cetak ulang sebanyak tujuh belas kali. Satu bukti nyata bahwa novel Laskar Pelangi novel laris manis (bestseller), baik dalam negeri maupun luar negeri, khususnya Malaysia, walaupun belum sebanding dengan Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy pada priode 2004 – 2008 sudah dicetak ulang sampai tiga puluh tiga kali. Sehingga, kepada kedua buku ini dapat ditabalkan nama bestseller. Standar buku bestseller jika dapat terjual lebih dari 5000 eksamplar (ukuran kuwantitatif bukan ukuran waktu). (Edy Zaqeus, 2008 : xxi).

Kemudian pada cetakan ketujuh belas novel Laskar Pelangi, pada bagian atas kulit depan buku tertulis “Indonesia’s most powerful book” untuk mendukung pujian-pujian terhadap novel Laskar Pelangi. Pujian-pujian itu berasal dari jurnalis, budayawan, akademisi, Dewan Perwakilan Rakyat, sutradara, majalah, koran, pencinta buku, guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, komnas perlindungan anak, dan dari kaum agamais. (http://www.laskar pelangi net/ html).

Bahkan saat ini novel Laskar Pelangi telah pula berhasil diangkat ke layar lebar atas arahan Mira Lesmana. Ini berarti bukan menambah kualitas novel Laskar pelangi, tetapi satu lagi bukti bahwa novel Laskar Pelangi memang berkualitas dan perlu untuk dibaca atau ditonton oleh semua orang, terutama bagi yang telah kehilangan hati nurani.

Apa yang terjadi di atas, tentu tidak terjadi begitu saja, jatuh dari langit atau keluar dari bumi. Tapi Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi telah berhasil meramu pengalaman masa lalunya, yang dianggabnya sudah hilang pada masa kini dan yang akan datang. Sehingga Andrea Hirata (ahli ekonomi dan telekomunikasi) ini memetik dan mengemas kembali butir-butir mutiara yang berserakan pada masa lalu untuk masa yang akan datang.
Menurut Othman Puteh (2000 : 15 -16) membuat sebuah novel (karya sastra) sebenarnya sama dengan membuat sebuah karya ilmiah lainnya. Artinya ketika pengarang akan menulis buah pikirannya harus mengacu kepada fakta-fakta yang ada dan berkembang di tengah masyarakat. Seorang pengarang sastra sama dengan seorang peneliti. Hanya berbeda dari cara mengungkapkannya saja.

Pengarang sastra yang mengambil bahan dari obyeknya secara obyektif. Nasmun disampaikan dan dikisahkan dengan bahasa dan gaya tersendiri dan tanpa perlu menyebut acuan atau sumber yang digunakan. Sedangkan karya ilmiah lainnya ditulis dengan bahasa ilmiah (efektif dan standar) dan harus mencantumkan acuan atau sumber secara jelas dan lengkap. Karya sastra disampaikan sesuai dengan fakta, maka ia akan berubah menjadi sejarah. Sebaliknya, karya sastra disampaikan berdasarkan khayalan semata, maka tidak ada orang yang dapat memahaminya.


III. Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata

Novel Laskar Pelangi berkisah tentang pendidikan dengan segala nuasanya. Cerita berawal tentang kecemasan seorang kepala sekolah, guru, murid-murid (kini populer sebutan siswa), dan orangtua murid. Kecemasan guru-guru akan keberlangsungan pendidikan. Guru-guru mengajar bukan karena ingin mendapatkan uang, tetapi untuk menjalalankan tanggung jawab pendidikan.

Kecemasan pada murid suatu hal yang biasa dan lumrah. Di hari-hari pertama perasaan mereka bercampur: gembira, sedih, takut, malu, kaku, dan keingintahuan mereka. Bahkan bagi siswa yang lincah dan berani langsung tampak nakal dan cari perhatian, itulah Laskar Pelangi.


Kecemasan juga terjadi pada orangtua murid. Dengan masuknnya anak ke lembaga pendidikan akan menambah daftar pengeluaran atau minimal menambah beban pekerjaan di rumah dan tidak dapat menambah penghasilan.

Kisah berkembang di tengah-tenagah peradapan Melayu di Belitong dengan para pendatang, penambang timah, dalam kesatuan Perusahan Negara (PN). Peradaban Melayu yang sangat sederhana. Mereka hidup dari hasil nelayan, buruh tani, dan kuli-kuli pikul, pendapatannya sangat rendah. Sementara para kalangan atas di PN hidup dengan segala kemewahan.

Akibatnya di Belitong terjadi tembok pemisah. Tembok pemisah rumah antara yang kaya dengan yang miskin, yang terhormat dengan tidak terhormat dengan segala konsekwensinya. Namun kehidupan terus berjalan, Laskar Pelangi terus berjuang, ada yang berhasil dan ada juga yang gagal.


IV. Laskar Pelangi Potret Perjuangan Pendidikan di Daerah

Kisah novel Laskar Pelangi merupakan gambaran pendidikan di daerah di seluruh nusantara ini. Hal ini dapat kita lihat melalui pengalaman kita masing-masing atau kita menonton atau membaca dari berabagai media di Indonesia. Secara jujur, pemakalah ini, jauh lebih sengsara daripada Laskar Pelangi. Penulis belajar di bawah pohon kemiri dan ketika untuk menulis harus mencari pasir halus di pinggiran sungai. Dengan menggunakan pena abadi, yaitu dengan ujung jari atau potongan kayu yang kebetulan hanyut dibawa arus sungai.

Banyak kisah lain yang memilukan. Ada sekolah memiliki murid dan tidak memiliki guru atau kekurangan guru. Sehingga selalu terjadi di daerah untuk satu atau dua orang guru harus mengajar siswa pada enam kelas secara serentak. Akibatnya hasil tidak maksimal dan output tidak berkuwalitas.
Ada sekolah memiliki murid, guru, dan tidak ada memiliki fasilitas. Guru mengajar berdasarkan teori semata. Akibatnya penguasaan murid terhadap materi yang diajarkan hanya mengacu kepada sebatas hapalan bukan keterampilan.

Ada sekolah memiliki murid, ada guru, ada fasilitas, tidak ada hati nurani. Saya sangat yakin bila diadakan penelitian, kelompok ketiga ini yang paling dominan. Maka, dapat kita bayangkan bagaimana hasil pendidikan pada sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang. Sulit mencari guru seperti Pak Harfan dan Ibu Mus dalam Laskar Pelangi. Pahlawan tanpa tanda jasa yang benar-benar berjasa.


V. Laskar Pelangi Potret Pendidikan di Indonesia

Kalau di atas kita telah sepakat, bahwa novel Laskar Pelangi gambaran pendidikan di seluruh nusantara ini. Maka pada gilirannya novel Laskar Pelangi akan menjadi gambaran pendidikaan di Indonesia. Setengah abad lebih kita sudah menghirup udara kebebasan, namun sampai saat ini kita belum memiliki sitem pendidikan yang mapan. Peserta didik dan guru masih saja diperlakukan sebagai kelinci-kelinci percobaan.

Kesenjangan pendidikan masih dijumpai di mana-mana. Kesenjangan itu dapat dilihat, antara pusat dengan daerah, antara daerah dengan daerah, antara sekolah negeri dengan sekolah swasta. Memang sudah ada pendidikan yang dikemas sampai berkelas internasional, namun tujuan akhirnya sudah berubah menjadi komersial.

Novel Laskar Pelangi merupakan miniatur pendidikan di Indonesia. Apa yang terjadi di Belitong juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Sebab dan akibat yang berbeda. Belitong dengan tambang timahnya, Irianjaya dengan Preeportnya, Aceh dengan gasnya, Riau dengan ladang minyaknya.


VI. Sumbangan Laskar Pelangi Kepada Bangsa Indonesia

Bila dicermati, novel Laskar Pelangi memberikan dua sumbangan yang sangat besar kepada bangsa ini. Sumbangan pertama adalah kepada perkembangan kesusastraan Indonesia. Sumbangan itu adalah sebagai berikut:
1. Melalui daya tarik Laskar Pelangi, karya sastra telah dapat kembali menjadi media komunikasi kepada masyarakat. Sastra tidak hanya dibaca oleh orang sastra, tetapi sastra sudah menjadi bacaan segala kelompok usia dan semua bidang profesi. Pada gilirannya akan menjadi sumber inspirasi dalam melaksanakan hak dan kewajiban (profesi).
2. Novel Laskar Pelangi memperbanyak jumlah novel Indonesia yang diangkat ke layar lebar. Saat ini kita sedang menunggu film Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El Shirazy. Biasanya rumah produksi hanya tertarik kepada cerita yang penuh dengan aksi, tetapi kini mereka telah melirik cerita yang penuh dengan kosentrasi. Hal ini tidak terjadi pada masa sebelumnya.
3. Membaca novel Laskar Pelangi seperti membaca karya ilmiah. Penguraian logis dan sitematis, kerangka berpikir terarah dan fokus. Oleh sebab itu, salah satu ulasan terhadap novel ini menyatakan, bahwa novel ini bukan hanya bacaan sastra, namun dapat menjadi referensi ilmiah, seperti pembuatan desertasi, tesis, skripsi, diskusi, bahan seminar, dan sumber rekomendasi untuk menyusun program pendidikan.

4. Ada yang istimewa untuk pembaca. Pada bagian akhir novel, tercantum Glosarium atau daftar kata atau istilah yang dilengkapi dengan arti dan penjelasan. Hal ini sesuatu yang belum biasa pada novel-novel sebelumnya.

5. Menurut Sapardi Djoko Damono, bahasa dalam Laskar Pelangi sebagai metapora yang berani, tak biasa, tak terduga, namun amat memikat. Sejalan dengan komentar Nicola Horner, Andrea Hirata adalah seorang seniman kata-kata. Kita nikmati berikut ini;

“Aku bergegas agar tugas penuh siksaan itu segera selesai. Namun, tinggal beberapa langkah mencapai kotak merpati sekejap angin semilir yang sejuk berenbus meniup telingaku-hanya sekejap saja. Saat itu tak kusadari bahwa sang nasib yang gaib menyelinap ke dalam toko bobrok itu, mengepungku, dan menyergabku tampa ampun, karena tepat pada momen itu kudengar si nona berteriak keras mengejutkan”(Andrea Hirata, 208 : 207).

6. Novel Laskar Pelagi mampu menggerakkan dan membangun jiwa para pembaca. Ketika kita sedang membaca, kita ingin berbuat lebih banyak dan lebih baik. Cerita di dalam Laskar Pelangi bersifat global dan bukan sektoral. Jadi pendidikan di dalam Laskar Pelangi adalah sebagai motif.

Kedua, sumbangan untuk dunia pendidikan di Indonesia. Sumbangan itu adalah sebagai berikut:
1. Melalui Membaca novel Laskar Pelangi atau menonton film Laskar Pelangi dapat menumbuhkan semangat melaksanakan kewajiban pada umumnya, khususnya untuk guru dan tenaga kependidikan. Sedangkan untuk murid adalah memotifasi lebih kreatif dan inovatif.
2. Kisah novel Laskar Pelangi mempertegas kembali makna pendidikan. Bahwa mengajar itu bukan hanya membuat murid dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi pintar tetapi harus memembuat murid menjadi bermoral, etika, sopan santun, disiflin, tanggung jawab sesuai dengan tujuan pendidikan nasional adalah menciptakan manusia seutuhnya. Kita simak berikut ini:

“Kali ini Ibunda tidak memberimu nilai terbaik untuk mendidikmu sendiri,” kata Bu Mus dengan bijak pada Mahar yang cuek saja.
“Bukan karena karyamu tidak bermutu , tapi dalam bekerja apa pun kita harus memiliki disiflin.”(Andrea Hirata, 2008 : 190).

3. Novel Laskar Pelangi dapat menjadi acuan untuk menyususun kebijakan tentang program pendidikan. Sehingga hasil akhir pendidikan kita dapat menjawab tantangan zaman, setiap detiknya mengalami proses perubahan.


VII. Penutup
Kisah novel Laskar Pelangi ini merupakan salah satu sisi gelap di sekeling kita yang diangkat Andrea Hirata. Masih banyak sisi gelap lain, yang menunggu tangan terampil untuk melukiskannya menjadi sebuah cerita menarik yang ditunggu pembaca untuk dinikmati. Tangan-tangan terampil itu saya yakin ada di mana-mana, termasuk di dalam ruangan ini.



Daftar Pustaka

Ahmad Samin Siregar. 1979. “Pengantar Kritik Sastera” Diktat. Medan: Fakultas Sastera USU.
Andreas Hirata, 2008. Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT Benteng Pustaka.
Edy Zaqeus. 2008 Resep Cespleng Menulis Buku Bestseller. Tangerang
Fivestar Publisihng.
Hauser, Arnold. 1982 The Sosiology of Art. London: The Universiti of Chicago Press.
Othman Puteh. 2000. Pengisian Dunia Sastra. KualaLumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
http://www.laskar pelangi net/ html.
Othman Puteh. 2000. Pengisian Dunia Sastra. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka.



BIODATA

Drs. Isma Tantawi, M.A.
Lahir Pada Tanggal 07 Pebruari 1960
Di Kampung Mangang, Kecamatan Rikit Gaib
Kabupaten Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tel: (061) 8225019 HP: 08126543562
FAX :061-8215956 E-mail:cicempala @yahoo.com

Pendidikan
- SD Negeri Mangang, tahun 1973
- SMP Negeri Blangkejeren, tahun 1977
- SMA Negeri Kutacane, tahun 1980
- Sarjana Sastra USU, tahun 1985
- Masters of Art Universiti Sains Malaysia, tahun 2006

Pengalaman Pekerjaan
- Kepala SMA Dwitunggal Medan (1988-1990)
- Kepala SMA Berdikari Medan (1990-1991)
- Kepala STM Medan Area Medan (1991-2007)
- Kepala SMA Mayjend Sutoyo Medan (1994-2005)
- Kepala STM Mayjend Sutoyo Medan (1994-2005)
- Kepala SMP Mayjend Sutoyo Medan (2001-2005)
- Dosen Universitas Darmawangsa (2002-2007)
- Dosen Tamu Kolej Sentral Kuala Lumpur (2005-2007)
- Dosen Universitas Terbuka (2006-2007)
- Dosen Tetap Fakultas Sastra USU (1986-2008)

Hasil Karya
- Harapan dan Kenyataan Organisasi Gayo, Naskah Seminar, 1992
- Kumpulan Puisi “ Gayoku Sayang “ , 1994
- Pincipta Syair Kaset “ Kalam Janyi ”, 2000
- Asal-usul dan Karakter Suku Gayo, Naskah Seminar, 2000
- Budaya Politik Kita, Naskah Seminar, 2000
- Didong Gayo Lues: Yang Terlupakan dari Kaki Gunung Leuser, Naskah Seminar Internasional 2005
- Adat Perkawinan Suku Gayo Lues, Naskah Seminar Nasional, 2005
- Didong Gayo Lues: Satu Analisis Pemikiran Masyarakat Gayo, 2006
- Didong: Analisis Keindahan Bahasa dan Fungsi Sosial, Jurnal Ilmiah “Logat”, 2006
- Dialek dan Fungsi Bahasa Daerah di Aceh Tenggara, Naskah Seminar, 2007
- Orientasi dan Sejarah Suku Gayo, Naskah Seminar, 2008
- Pemikiran Islam Dalam Sastra Tradisi, Jurnal Ilmiah “Logat”, 2008
- Buku Pilar-Pilar Kebudayaan Gayo Lues, Segera Beredar !
- Kumpulan Puisi “Persangrahan” Segara beredar!

Pelatihan

- Pelatiham Penelitian, USU, 1998
- Pelatihan Penulisan di Jurnal, USU,2000
- Peningkatan Manajemen Mutu, USU, 2001
- Peningkatan Manajemen Sekolah, Diknas, 2004
- Applied Approach (AA), USU, 2008


*Disampaikan dalam KONGRES NASIOANAL BAHASA GAYO, Banda Aceh, 5 - 6 Januari 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar