Senin, 25 Mei 2009

DIDONG GAYO LUES : YANG TERLUPAKAN DARI KAKI GUNUNG LEUSER NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Oleh: Isma Tantawi


I. Pendahuluan
Seni tradisi lisan atau seni bertutur (oral tradition) didong merupakan konfigurasi seni suara, seni tari, dan seni musik serta sudah berkembang sejak perkembangan peradaban suku Gayo Lues, Aceh. Diperkirakan didong sudah lahir di daerah Gayo bersamaan dengan masuknya agama Islam. Menurut L.K. Ara dkk (1995 : 639) belum dapat dideteksi, bila kesenian didong mentradisi di Gayo. Sementara Rendra menduga kesenian ini merupakan pengaruh Islam India, datang ke Indonesia masuk bersama masuknya agama Islam ke Indonesia.
Didong Gayo Lues sampai saat ini belum pernah diteliti secara menyeluruh oleh para peneliti, sehingga masih ditemui kesulitan untuk memperoleh bahan bacaan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan didong Gayo Lues. Hal ini terjadi karena para pakar didong Gayo Lues masih sangat langka dalam mengkomunikasikan didong yang berbentuk bahasa tulis. Uraian tentang didong Gayo Lues sampai saat ini lebih banyak bersifat lisan. Oleh karena itu, penulis membuat judul makalah ini “Didong Gayo Lues : Yang Terlupakan dari Kaki Gunung Leuser Nanggroe Aceh Darussalam”. Tujuannya untuk memperkenalkan dan memberikan gambaran ringkas kepada pencinta sastra umumnya dan pencinta tradisi lisan khususnya.

II. Sejarah Didong
Kata didong berasal dari bahasa Gayo, yaitu dari akar kata dik dan dong. Dik artinya menghentakkan kaki ke tanah (lantai atau papan) yang berbunyi dik-dik-dik. Kemudian akar kata dong berarti berhenti di tempat, tidak berpindah. Jadi, kata didong dapat diartikan bergerak (menghentakkan kaki) di tempat untuk mengharapkan bunyi dik-dik-dik. Bunyi dik-dik-dik selalu dibunyikan untuk menyelingi dalam pertandingan didong. Menurut kamus Bahasa Gayo – Indonesia, didong ialah sejenis kesenian tradisional yang dipertandingkan antara dua guru didong yang berasal dari dua desa yang berbeda, persembahan dimulai setelah selesai shalat Isa dan berakhir sebelum shalat subuh (M.J. Melalatoa dkk, 1985 : 71).
Kata didong menjadi nama kesenian tradisional di Gayo Lues berdasarkan cerita rakyat (foklore), yaitu “Asal - Usul Gajah Putih” yang dikumpulkan oleh Sulaiman Hanafiah dkk (1984 : 140 – 148). Gajah putih merupakan penjelmaan seorang sahabat yang sudah meninggal dunia, ketika Gajah Putih ini akan dibawa ke istana raja Aceh oleh orang-orang yang diperintahkan raja. Gajah Putih tidak mau berjalan dan melawan, Gajah Putih menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik. Namun ketika sahabatnya yang membawa, Gajah Putih pun berjalan dan sampai ke istana raja Aceh.
Gerakan Gajah Putih yang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dan menimbulkan bunyi dik-dik-dik, selalu ditirukan oleh orang-orang yang melihat kejadian itu. Akhirnya kebiasaan tersebut digunakan pada saat merasa gembira atau pada saat menyampaikan pesan dan nasihat kepada anak-anak, teman, masyarakat atau kepada siapa saja yang dianggap perlu untuk disampaikan. Oleh karena itu, kebiasaan tersebut berlangsung sampai saat ini dan disebut dengan kesenian didong.

III. Pembagian Didong
Didong dapat dibagi dua, yaitu: didong Gayo Lues dan didong lut (laut). Didong Gayo Lues dapat dibagi tiga macam, yaitu didong alo ; didong belang (didong penyambutan tamu), didong jalu (didong laga), dan didong niet (didong niat). Didong Gayo Lues berkembang di Kabupaten Gayo Lues dan Kabupaten Aceh Tenggara. Didong Lut berkembang di Aceh Tengah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Seperti skema di bawah ini:
Skema 1
Pembahagian dan Daerah Perkembangan Didong








Pada kesempatan ini penulis akan menguraikan didong Gayo Lues dari Kabupaten Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Didong lut sudah banyak diteliti dan ditulis oleh para pakar dari Aceh Tengah seperti M. Yunus Melalatoa, A.R. Hakim Aman Pinan, M. Affan Hasan dan beberapa nama penulis internasional seperti Siti Zainon Ismail, Yulianus Liem Beng, dan C.Snock Horgroje.

IV. Didong Gayo Lues
Seperti yang telah dikemukan di atas didong Gayo Lues ada tiga macam, berikut ini akan diuraikan satu per satu.

a. Didong Alo
Didong alo ; didong belang (didong penyambutan tamu) Persembahan dilakukan pada saat penyambutan tamu yang diundang untuk pesta tari saman (tari saman selalu dipertandingkan antara satu kampung dengan kampung yang lain selama dua hari dua malam). Pemain didong alo berjumlah antara 5 sampai 10 orang dari pihak tuan rumah dan begitu pula dari pihak tamu. Tamu selalu dijemput, jarak tempat mengadakan persembahan didong alo biasanya satu atau dua kilo meter atau sesuai dengan keadaan lapangan. Persembahan dilakukan berbaris sambil berlari dan berbentuk melingkar arah ke kiri atau ke kanan, begitu juga dari pihak tamu untuk mengikuti tuan rumah.
Persembahan didong alo dimulai dari pihak tuan rumah, tuan rumah mengucapkan selamat datang, kebanggaan atas kesediaan kehadiran tamu, mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyambutan tamu. Setelah itu pihak tamu mengucapkan terima kasih atas undangan, terima kasih atas penyambutan serta menjelaskan tidak ada masalah di perjalanan, sehingga dapat sampai ke tempat tuan rumah.
Setelah terjadi tiga atau empat kali secara bergantian dilanjutkan dengan salam-salaman dan berdialog seperti layaknya dua orang sahabat yang baru berjumpa dan persolan yang bersifat pribadi tidak termasuk dalam bagian persembahan didong alo (Hasan Leman, Tanpa tahun : 7).

b. Didong Jalu
Didong jalu (didong laga) dilakukan dengan mempertemukan dua penutur (guru didong ; pegawe) yang berasal dari dua kampung berbeda.Satu guru didong menwakili ralik (pihak keluarga istri) dan satu guru didong mewakili juelen (pihak menantu pria). Persembahan didong jalu dilakukan untuk merayakan pesta pernikahan dan sunat rasul. Persembahan dimulai setelah shalat isya dan berakhir sebelum shalat shubuh ( lebih kurang 9 jam). Masing-masing guru didong didanpingi 10 sampai 15 orang untuk mengiringi cerita pada bagian-bagian tertentu. Guru didong memakai topi (bulang teleng), kain ulos (upuh kerawang) Gayo (warna menonjol merah, kuning, hijau dan warna dasar hitam), dan kain sarung berwarna merah serta celana panjang berwarna hitam. Didong dimainkan di atas papan sepanjang 3 meter dan di bawahnya digali lubang supaya dapat menimbulkan bunyi.
Dalam didong jalu terdapat lima bagian, yaitu: 1) tuyuh (pengantar), 2) tabi (persalaman), 3) batang (kesepakatan), 5) kekunen :itik-tiken (teka-teki), dan 5) niro ijin (mohon maaf).
Pada bagian pertama (tuyuh) diceritakankan riwayat hidup guru didong yang akan tampil dalam persembahan.. Pada bagian ini selalu digambarkan tentang ketidakmampuan, kelemahan, sifat penakut, belum berpengalaman tampil dalam persembahan didong jalu, belum pernah menang (walaupun guru didong yang akan tampil adalah guru didong yang ternama), dengan kata lain penggambaran sikap yang merendahkan diri. Pihak lawan juga menggambarkan hal yang sama tentang guru didong yang akan tampil. Bagian tuyuh ini dapat disampaikan oleh guru didong yang akan tampil atau guru didong yang lain dalam posisi duduk dan tertutup dengan kain ulos.
Pada bagian kedua (tabi) dilakukan pada posisi berdiri dan isinya memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, dengan menyebut langit dan bumi sebagai lambang dan bukti kebesaran Tuhan. Kemudian persalaman dilanjutkan kepada dewal, jema, sarak opat (empat bagian dalam masyarakat) yaitu: 1) sudere (masyarakat), 2) urangtue (orangtua atau dituakan), 3) pegawe (cerdik pandai yang mengetahui adat dan agama, agama Islam), dan 4) pengulunte reje (raja) dengan menjelaskan fungsi dan peranannya masing-masing di dalam masyarakat. Seperti tergambar dalam skema berikut ini








Skema 2
Sruktur Dewal, Jema, Sarak Opat








Persalaman dilanjutkan kepada biak opat (kaum kerabat) juga terdiri dari empat bagian, yaitu: 1) ralik (pihak keluarga isteri), 2) juelen (pihak menantu pria), 3) sebet (sahabat), dan guru (tempat belajar ilmu adat agama), dengan menjelaskan peranannya masing-masing.
Guru didong menceritakan fungsi ruangan sitige (ruangan yang tiga), yaitu 1) pendehren (tempat peralatan masak-memasak), 2) pendahrin (tempat memasak), dan 3) kekasihen (istana raja). Kemudian persalaman dilanjutkan kepada papan, tikar, dan kain yang dipakai dalam persembahan dengan memohon maaf bila terjadi kotor atau rusak kepada pemilik atau yang membuatnya.
Pada bagian ketiga (batang) berisi kesepakatan tentang apa yang akan dilakukan. Apakah didong jalu dilanjutkan atau diberhentikan? Kalau dilanjutkan, siapa yang bertanya, satu orang bertanya satu orang menjawab atau secara bergantian dan masalah apa yang akan ditanyakan (masalah agama atau adat atau kedua-duanya)? Setelah ada kesepakatan, didong dilanjutkan pada bagian teka-teki.
Pada bagian keempat (kekunen) kedua guru didong berdiri berdampingan dan melaksanakan apa yang telah disepakati pada bagian batang. Teka-teki pun dimulai dan setiap teka-teki jawabannya selalu ditutup. Setelah teka-teki ditanyakan oleh pihak penjual, pihak lawan harus mampu mengulangi kembali teka-teki tersebut dan menyidik untuk mencari hubungannya dengan persoalan-persoalan lain. Bila lawan dapat mengikuti dan menyidik teka-teki dengan tepat dan penjual tidak dapat menjelaskan hubungannya dengan yang ditanyakan lawan maka penjual dianggab kalah. Begitu juga sebaliknya bila lawan tidak dapat mengulangi dan menyidik teka-teki maka penanya teka teki dianggab menang oleh penonton. Begitulah terjadi secara bergantian dan teka-teki pun berakhir.
Pada bagian kelima (niro ijin) kedua guru didong berhadapan dan memohon maaf secara beragantian. Kedua guru didong selalu berjanji akan menjalin hubungan kekeluargaan. Peristiwa duka saling mengunjungi dan peristiwa suka saling mengundang. Kemudian kedua guru didong bersalaman dan pertsembahan didong jalu pun selesai (Buniyamin, 1994 : 17)

c. Didong Niet
Didong Niet (didong niat) dimainkan oleh dua orang guru didong. Kedua guru didong berdiri berdampingan dan pakaian sama dengan didong jalu. Didong niet selalu dipersembahkan berdasarkan niat seseorang. Misalnya niat seseorang yang ingin mempunyai keturunan atau keinginan punya anak laki-laki atau anak perempuan. Jika keinginan ini dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, maka didong niet pun dipersembahkan. Didong niet ini mengisahkan sejak pertemuan pertama kedua orang tua anak yang dididong niatkan. Kemudian pertemuan direstui kedua orangtua dari kedua belah pihak serta dilanjutkan ke jenjang peminangan dan pernikahan. Kemudian cerita dilanjutkan pada umur satu dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh hari, dan sampai bayi lahir ke dunia. Cerita dilanjutkan dengan acara ayunan (turun mani) penabalan nama sesuai dengan hari kelahiran dan hal ini selalu dihubungkan dengan agama Islam serta nama keluarga seperti nama orangtua, kakek, nenek, dan lain-lain.
Cerita dilanjutkan sampai usia anak pada saat dipersembahkan didong niet. Guru didong bercerita berdasarkan kepada fakta-fakta yang terjadi sebelumnya. Misalnya, perkawinan orangtuanya, nama orangtuanya, hari kelahiran, dan nama anak yang bersangkutan. Berdasarkan kepada data tersebut kedua guru didong meramal masa depan secara sambung-menyambung.
Kalau nasib anak tersebut baik, kedua guru didong pun akan menceritakan secara beragantian mengenai kebaikan dan kejayaan pada masa depan. Begitu pula sebaliknya, jika nasib anak kurang beruntung, diserang penyakit atau usia pendek kedua guru didong menceritakan secara bergantian mengenai malapetaka yang akan menimpa anak tersebut. Menurut cerita orang-orang tua dahulu, cerita didong niet sering menjadi kenyataan. Apa yang diceritakan guru didong sering menjadi kenyataan pada masa depan anak yang bersangkutan.
V. Didong dan Masyarakat Gayo Lues
Budaya dan masyarakat tidak dapat dipisah-pisahkan. Budaya lahir dari masyarakat dan masyarakat memiliki budaya. Budaya atau kebudayaan adalah segala daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan rohani maupun kebutuhan jasmani. Kebudayaan yang diperoleh manusia melalui belajar dan budaya menjadi milik masyarakat yang menganutnya (Koentjaraingrat, 1980 : 193).
Kebudayaan dapat dibagi dua macam. Pertama, kebudayaan dalam arti luas, yaitu kebudayaan yang berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Misalnya, cara bercocok tanam, cara makan, cara bergaul, sitem mata pencaharian, sitem pemerintahan, dan lain-lain. Kedua, kebudayaan dalam arti sempit, yaitu kebudayaan yang menyangkut nilai seni. Misalnya, seni tari, seni pahat, seni suara, seni sastera, dan seni lukis. Sesuai dengan skema berikut ini:
Skema 3
Struktur Kebudayaan














Didong sebagai karya seni sastra merupakan hasil dan milik masyarakat Gayo Lues. Didong merupakan gambaran dan pancaran jiwa masyarakat Gayo. Di dalam didong selalu berisi tentang kebudayaan masyarakat Gayo. Gambaran budaya Gayo yang ada di dalam didong seperti sistem kekerabatan, status sosial, sitem perkawinan, dan lain-lain. Masing-masing daerah mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri dan memiliki berbagai bentuk kesenian yang khas (Ajib Rosidi, 1994 : 7).

5.1 Didong Sebagai Haiburan
Karya seni diciptakan oleh seorang pengarang yang merupakan anggota masayarakat. pengarang (seniman, sastrawan, penyair) menciptakan karya bertujuan untuk menyampaikan pesan atau amanat dan menghibur para peminat atau pembaca. Perbedaannya karya-karya serius (kicth) atau karya sastra yang tinggi mutu lebih banyak menyampaikan pesan dibandingkan hiburan. Begitu pula karya sastra yang rendah mutunya (pop) lebih berfungsi sebagai hiburan dibandingan untuk menyampaikan pesan, kata penyair Latin Horatius (Ahmad Samin Siregar, 1979 : 33).
Didong sebagai karya seni sastra masyarakat Gayo Lues, maka didong ini berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat Gayo Lues. Di dalam karya seni (termasuk didong) terdapat dua hal, yaitu yang bermanfat dan kenikmatan bagi pembacanya. Kenikmatan dalam karya seni (termasuk didong) dapat memberikan kesegaran dan kenyamanan bagi penikmatnya karena seni adalah pengutaraan keindahan (M.S. Soekadarman, 1977 : 9).
Menurut Sidi Gazsalba (1978 : 550) tentang fungsi seni sebagai haiburan mendapat nilai yang tak terkira peranannya dan menambah kenyamanan hidup. Nyanyian, musik, tarian, drama, sastra, lukisan merupakan tempat pelarian dari jiwa dan semangat yang penat karena kerja sehari-hari, karena tugas ekonomi, politik, dan lain-lain. Semangat yang sudah kendor disegarkan kembali oleh nilai-nilai yang kita nikmati dalam karya seni.
Menurut Wadjiz Anwar (1980 : 5) keindahan itu terdapat di mana-mana, kita memandang alam di sekeliling kita dan kita menjumpai keindahan dan kecantikan. Keindahan pemandangan pohon bambu yang menjulang tinggi di atas desa-desa di negeri kita. Keindahan laut yang membanting tepi pantai. Suara pun mempunyai keindahan. Gerak langit dan gerak penari pun ada keindahannya. Di samping keindahan yang terdapat dalam alam itu kita sebagai manusia juga membuat beberapa keindahan yang kita tuangkan di dalam karya seni. Kita merasakan dan menikmati keindahan sebagai hiburan.
Didong sebagai karya seni masayarakat Gayo dapat berfungsi sebagai hiburan bagi masayarakat Gayo. Didong ini pun dipersembahkan hanya pada saat pesta suka atau kegembiraan seperti pesta perkawinan, pesta sunat rasul dan penyambutan tamu. Karya pengarang tidak akan disebarkan sekiranya tidak dapat memberikan hiburan kepada khalayak atau pembacanya (Haron Daud, 2001 : 1).
Walaupun nuansa agama Islam tetap terasa pada persembahan didong, namun didong tidak pernah dipersembahkan untuk menyambut hari besar agama Islam. Bagi masyarakat Gayo untuk perayaan agama Islam selalu disambut dalam bentuk ceramah (berhubungan dengan hari perayaan), kunjungan antarkampung dalam rangka membacakan selawat nabi.

5.2 Didong Sebagai Sarana Pendidikan
Pendidikan dapat ditrima masyarakat melalui dua bagian. Pertama, pendidikan formal atau pendidikan yang dipersiapkan secara resmi. Pendidikan semacam ini mempunyai sarana, tenaga pendidik, lembaga, dan norma-norma yang mengikatnya. Contohnya Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), dan semua lembaga pendidikan tinggi, baik negeri maupun swasta (H.M. Hafi Anshari, 1983 : 104).
Kedua, pendidikan informal, yaitu pendidikan yang diperoleh secara tidak resmi dari lingkungannya, termasuk apa yang disampaikan di dalam karya seni. Setiap karya seni yang diciptakan pengarang atau seniman memeliki pesan kepada pambaca. Pesan itu seperti pendidikan kemasyarakatan, kekeluargaan, adat-istiadat, kebiasaan, dan lain-lain. Pesan ini disampaikan di dalam karya seni, misalnya, karya sastra, seni lukis, seni pahat, seni suara, dan seni tari (A. Muri Yusup, 1982 : 27).
Menurut Aning Retnaningsih (1982 : 21) karya seni diciptakan pengarang, karena pengarang memiliki niat baiknya untuk mengemukakan beberapa persoalan, cita-cita, serta paham-paham yang terkandung di dalam kalbunya berupa pesan atau tujuan yang tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Seorang pengarang menciptakan karya sastra ada pesan atau amanat yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pengarang ingin berbagi pengalaman batin dengan pembaca. Pengalaman batin yang disampaikan ada yang berupa pendidikan kepada masyarakatnya. Pendidikan yang disampaikan ada bersifat langsung dan ada yang tidak langsung.
Pendidikan yang beresifat langsung dapat dilihat dari dialog langsung yang dilakukan oleh tokoh atau penutur pada seni persembahan. Tema-tema ucapan dan adegan mempunyai pesan dan tujuan tertentu untuk pembacanya, walaupun isi dialog seolah-olah untuk keperluan konflik antartokoh yang terdapat di dalam karya sastra. Sedangkan pendidikan yang bersifat tidak langsung, dapat dilihat dari jalan cerita dan perkembangan watak para tokoh dapat menjadi contoh kepada pembaca atau khalayak sastra itu sendiri.
Pendidikan yang disampaikan bersifat informal, maksudnya pendidikan yang disampaikan pengarang melalui karya seni sangat luas dan tidak terbatas pada bidang tertentu saja, tetapi pendidikan yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Misalnya, pendidikan tentang hukum, agama, budaya, dan lain sebagainya. Hal ini dapat dilihat dalam sebuah novel, dapat menampilkan berbagai persolan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masayrakat, seperti, masalah teknologi, agama, sosial, kebudayaan psikologi, hukum dan beragai masalah lainnya yang terungkap di dalam sebuah karya sastra.
Seperti yang dikemukakan oleh Jan Van Luxemburg, Mieke Ball, dan Willem G. Westeijn (1986 : 25) sastra tidak hanya mencerminkan kenyataan, sastra boleh dan harus turut membangun masyarakat. Karya sastra sangat berperan untuk membina dan membangun kehidupan masyarakat.
Didong jalu yang lahir dari masyarakat Gayo Lues merupakan gambaran kehidupan masyarakat Gayo Lues. Oleh kartena itu, didong jalu dapat berperan untuk membina pendidikan kepada masyarakat Gayo Lues, terutama pendidikan yang bersifat informal. Dalam persembahan didong jalu Gayo Lues selalu mengulang-ulang persoalan yang sama pada bahagian tertentu dan bersifat dinamis pada bagian yang lain. Oleh karena itu, didong jalu dapat menjadi sarana pendidikan kepada masyarakat Gayo Lues.


5.3 Didong sebagai Nasihat
Karya seni yang diciptakan seniman atau pengarang menjadi sebuah dunia fiktif yang tersusun secara rapi dan teratur. Di dalam dunia fiktif ini terjadi jalan fikiran dan persoalan hidup yang menyangkut tentang kehidupan saling berhubungan. Pengarang merekam peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan dan pengarang sebagai anggota masayarakat memiliki pemahaman dan analisis terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Pemahaman dan analisis pengarang ini memepengaruhi pengungkapannnya di dalam karya sastra yang kaya dengan daya imajinasinya. Oleh karena itu, karya sastera itu tidak menampilkan reliti yang terjadi di tengah-tengah masayarakat (Umar Yunus, 1986 : 7).
Setiap pengarang mengungkapkan fikiran melalui karya sastra dan memiliki tujuan tertentu. Salah satu tujuan itu adalah untuk menyampaikan nasihat kepada pembaca. Nasihat ini disampaikan pengarang, karena pengarang ingin berbagi rasa dan ingin menyampaikan pesan kepada pembaca, agar pembaca dapat melaksanakan atau tidak melaksanakan sesuatu.
Menurut Jelani Harun (1999 : 19) melalui cerita (karya sastra) pengarang ingin menyampaikan nasihat melalui watak dan plot. Pengarang memberikan contoh tauladan kepada pembaca atau penonton persembahan. Penonton dapat mengambil pesan atau amanat yang disampaikan pengarang. Penonton seolah-olah menjadi objek para pengarang. Penonton sealalu disuguhi dengan pesan langsung maupun pesan tidak langsung.
Melalui karya sastera pengarang berusaha memberikan nasihat kepada pembaca, agar pembaca dapat berkembang dan mengusai segala seluk-beluk di dalam kehidupan masyarakat. Karya sastra dapat menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih tinggi dan lebih bertanggung jawab, baik tanggung jawab kepada diri sendiri maupun tanggung jawab bagi orang lain, bangsa, negara , dan agama (MJA Nashir, 2001 : 194).
Didong jalu salah satu karya sastra lisan dari suku Gayo Lues yang telah banyak menyampaikan nasihat kepada penonton persembahan. Penonton seolah-olah menjadi objek bagi penutur persembahan ini. Penonton memberikan nasihat-nasihat yang berharga di dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan kelompok.
5.4 Didong sebagai Alat Melestarikan Budaya
Salah satu ciri-ciri tradisi lisan, selalu mengulang tema yang sama dengan cerita-cerita sebelumnya. Oleh karena itu, tradisi lisan lebih bersifat mengulang pada tema yang diceritakan oleh penutur sebelumnya. Penutur boleh menambah dan mengurangi cerita sesuai dengan kebutuhan penonton pada saat tradisi lisan itu dipersembahkan. Akibatnya timbul versi-versi di dalam cerita tradisi lisan.
Kebiasaan yang diceritakan di dalam tradisi lisan selalu tentang kebiasaan-kebiasan hidup masyarakat yang melahirkan tradisi lisan itu sendiri. Sehingga tradisi lisan dapat dikatakan sebagai alat untuk melestarikan budaya. Setiap persembahan dilakukan, pendengar dapat mempelajari segala seluk-beluk adat dan kebiasaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat karena apa saja yang diuraikan di dalam kesenian selalu mempunyai hubungan dengan kebiasan-kebiasaan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Menurut Ajib Rosidi (1994 : 7) masing-masing daerah memiliki kebudayaan sendiri-sendiri dan kesenian yang khas. Jenis-jenis kesenian itu berkembang di kalangan masyarakat yang bersangkutan. Kesenian itu berkembang melalui persembahan atau pertunjukkan (khusus sastra lisan, tari, dan drama), pameran (khusus seni lukis dan seni pahat), dan membaca (khusus karya sastra tulisan) seperti puisi dan novel. Kemudian kesenian itu dapat juga berkembang melalui pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan yang resmi yang khusus mengajarkan pendidikan seni atau menjadi muatan lokal saja atau seni itu dapat berkembang melalui pendidikan informal seperti menonton pertunjukan, persembahan, membaca, mendengar dari aktivitas dan kreativitas karya seni.
Seorang pengarang yang hidup dalam ruang dan kurun waktu tertentu, di dalamnya pun pengarang akan terlibat dengan beraneka ragam persoalan. Dalam bentuk yang paling nyata adalah ruang dan waktu tertentu itu diisi oleh kondisi dan situasi sosial masyarakat tertentu, termasuk karya sastera. Dalam konteks ini, sastra bukanlah sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang berhubungan dengan sistuasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan (Rachmat Djoko Pradopo, 2001 : 167).
Menurut Korrie Layun Rampan (2000 : 26) apa yang terjadi di dalam kehidupan masyrakat akan mempengaruhi karya sastra, karena karya sastra merupakan cerminan masyarakat pada saat diciptakan. Di sadari atau tidak, pengarang langsung terpengaruh dengan keadaan kehidupahn masyarakat. Bahkan ada pendapat bahwa karya sastra itu dapat benar-benar menggambarkan kehidupan masyarakat, maka karya sastra itu dapat dikatakan baik atau berhasil. Oleh karena itu, karya sastra yang baik adalah karya sastra yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat secara nyata dan dapat dibuktikan dengan teori-teori ilmiah yang ada. Sastra dianggap sangat penting dalam sebuah masyarakat. Karya sastra dianggap dan diisi sebagai wadah rohaniah, intelektual, dan budaya. Sehingga sejarah sebuah bangsa dapat menjadi rujukannya adalah karya sastra. Dalam karya sastra terungkap fakta-fakta yang dapat dijadikan dasar dan data untuk mengambil rumusan (Muhammad Haji Saleh, 2000 : 43).
Didong jalu sebagai tradisi lisan yang selalu dipersembahakan setiap pesta sukacita seperti perkawinan atau pesta sunat rasul. Setiap persembahan dilakasanakan, guru didong akan tetap mempersembahkan bagian-bagian yang sama dengan pesembahan sebelumnya. Pengulangan semacam ini dapat membuat budaya Gayo menjadi lebih dipahami oleh masyarakat Gayo itu sendiri, sehingga dapat dikatakan tradisi lisan didong dapat melestarikan kebudayaan Gayo Lues.

5.5 Persembahan Didong Jalu Dapat Menigkatkan Sitem Kekeluargaan
Seperti telah diuraikan di atas didong hanya dipersembahkan pada peristiwa suka atau pesta gembira dan selalu setiap mengadakan persembahan didong dengan mengundang (mango) semua keluarga yang berada di desa lain. Setiap kelurga yang diundang akan membawa (mah atur) semua masyarakat yang bergabung di dalam bagian (belah) di desa itu sendiri.
Undangan hanya disampaikan oleh pihak yang pesta kepada keluarga yang ada di desa lain dan pihak keluarga yang akan menyampaikan undangan kepada semua anggota masyarakat dan masyarakat akan hadir secara bersama-sama, tertuma kaum muda mudinya (beru bujang) saja. Undangan tidak berbentuk tulisan tetapi diganti dengan kapur sirih (mangas) yang berisi sirih, pinang, gambir, dan kapur. Sirih pinang ini dibawa dan diberikan kepada anggota masayarakat sambil menyebutkan maksud kedatangan dan undangan tersebut.
Model undangan ini dilakukan oleh semua kelompok masyarakat. Oleh karena itu, jika ada pesta perkawinan hampir semua desa yang diundang bahkan kadang-kadang pesta dapat dihadiri oleh seluruh desa yang ada di dalam satu kecamatan. Dengan demikian persembahan didong jalu meningkatakan frekwensi pertemuan antara satu desa dengan desa yang lain sehingga dapat untuk meningkatkan sitem kekeluargaan.
Di samping pertemuan masyarakat antara satu desa dengan desa yang lain juga terjadi pertemuan anatara satu guru didong dengan guru didong yang lainnya di dalam persembahan. Setelah pertemuan kedua guru didong di dalam persembahan selalu menjadi sahabat dan saling mengunjungi jika ada peristiwa suka maupun peristiwa duka. Bahkan tidak jarang kedua guru didong menjadi sahabat yang akrab dan keduanya saling berdiskusi tentang didong. Jadi, persembahan didong dapat meningkatkan sistem kekeluargaan di dalam kehidupan masayakat Gayo Lues.

V. Penutup
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa didong merupakan tradisi lisan milik suku Gayo Lues. Didong memiliki sejarah dan ciri-ciri tersendiri dan didong memilki bagian-bagian, setiap bagian memiki perbedaan-perbedaan dengan bagian yang lainnya. Didong di dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues memiliki peranan yang sangat penting. Peranan didong 1) didong sebagai sarana untuk hiburan, 2) didong sebagai sarana menyampaikan pendidikan (pendidikan adat dan agama), 3) didong sebagai sarana untuk menyampaikan nasihat, 4) didong sebagai alat untuk melestarikan budaya, dan 5)persembahan didong jalu dapat meningkatkan sistem kekeluargaan.
Tradisi lisan memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan karya seni lainnya. Tradisi lisan diperkirakan akan tetap bertahan, walaupun teknologi informasi yang berkembang pesat. Tradisi lisan memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Dalam tradisi lisan sangat terasa keaslian dan kemurnian seni. Dalam tradisi lisan tidak ada rekayasa, yang ada hanya versi-versi.



DAFTAR PUSTAKA
A.Muri Yusuf. 1985. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Chalia Indonesia.
A.R. Hakim Aman Pinan. 2001. Daur Hidup Gayo. Takengon:Pemerintah Daerah
Aceh Tengah.
Ahmad Samin Siregar. 1979. Pengantar Kritik Sastra (diktat): Medan
Fakultas Sastera USU.
Ajib Rosidi.1994. Sastra dan Budaya Kedaerahan dan Keindonesiaan.
Jakarta: Pustaka Jaya.
Aning Retnaningsih. 1982. Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan
Indonesia Modern. Jakarta: Erlangga.
Buniyamin.S. 1994. Budaya dan Adat Istiadat Gayo Lues.Gayo Lues:
Blangkejeren.
C. Snock Hurgronje. 1996. Tanah Gayo dan PenduduknyaJakarta: INIS.
H.M. Hafi Anshari. 1983. Pengantar Ilmu Pendidikan. Surabaya:Usaha
Nasional.
Haron Daud. 2001. Mantera Malayu Analisis Pemikiran. Pulau Pinang,
Malaysia: Universiti Sains Malaysia.
Hasan Leman. Tanpa Tahun. Seminar Kebudayaan Gayo Lues..Blangkejeren :
Naskah Seminar.
Jan Van, Mieke Ball, dan Luxemburg. 1986. Pengantar IlmuSastra. Jakarta :
Gramedia.
Jelani Harun. 1999. “Bustan Al- Salatin: Karya Sejarah Dunia (Universal
History) dalam Pensejarahan Melayu Tradisional”Jurnal Ilmu
Kemanusiaan. Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia.
Koentjaraningrat. 1980. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Aksara Baru.
Korrie Layun Rampan. 2000. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia. Jakarta:
P.T. Gramedia Widiasarana Indonesia.
L.K. Ara. 1995. Seulaewah, “Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas”. Jakarta:
Yayasan Nusantara.
M. Affan Hasan dkk. 1980. Kesenian Gayo dan Perkembangannya. Jakarta:
Balai Pustaka.
M. Haji Saleh. 1992. Puitika Sastra Melayu Suatu Pertimbangan . Malaysia :
Universiti Kebangsaan Malaysia.
M.Junus Melalatoa.1985. Kamus Bahasa Gayo - Indonesia. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
____________________ 2001. Didong Pentas Kreatifitas Gayo Jakarta:
Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan dan Yayasan Obor Indonesia Beke
dengan Yayasan Sains Estetika dan Teknologi.
MJA Nashir. 2001. Membela Anak dengan Teater. Jakarta: Kepel Press.
M.S. Soekadaraman. 1977. Falsafah Seni dan Fenomenologi Karya Seni
. Malang: Suib Proyek Peningkatan/Pengembangan Perguruan Tinggi.
Rachmad Djoko Pradopo. 2001. Metodologi Penelitian Sastra.Yogyakarta:
Hanidita
Sidi Gazalba. 1978. Sitematika Falsafah IV. Jakrta: Bulan Bintang.
Siti Zainon Ismail. 1989. Percikan Seni. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka.
Sulaiman Hanafiah. 1984. Sastra Lisan Gayo. Jakarta. Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa
Umar Yunus. 1986. Sosio Sastra Persoalan Teori dan Metode. Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pelajaran Malaysia.
Wadjiz Anwar. 1980. Falsafah Estetika. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Yulianus Liem Beng. 2002.”Ragam Kesenian dari Aceh”.www.Culture or. Id.


Disampaikan dalam Seminar Internasional Didong Gayo Lues di Fakultas Sastra USU

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar