Senin, 25 Mei 2009

DIALEK DAN FUNGSI BAHASA DAERAH DI ACEH TENGGARA

Oleh: Isma Tantawi


I. Pendahuluan
Kabupaten Aceh Tenggara adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kabupaten Aceh Tenggara baru saja dimekarkan, melahirkan kabupaten baru, yaitu Kabupaten Gayo Lues. Secara administratif, baik batas maupun pemerintahan sudah terpisah, namun bahasa dan ragam bahasa daerah yang digunakan penutur masih belum ada garis pemisah antara Kabupaten Aceh Tenggara dengan Kabupaten Gayo Lues. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini Kabupaten Aceh Tenggara dan Kabupaten Gayo Lues dianggap sebagai satu kesatuan.

Kabupaten Aceh Tenggara memiliki ciri-ciri khusus dalam bidang kebahasaan. Aceh Tenggara memiliki bahasa etnis (daerah) yang beragam di bandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bahasa daerah yang ditemukan di Aceh Tenggara, yaitu Bahasa Gayo, Alas, Singkil, Aceh, Batak Karo, Batak Toba, dan Minang. Pada kesempatan ini, saya belum dapat mencantumkan jumlah penutur masing-masing bahasa daerah tersebut.


II. Dialek Bahasa Daerah di Aceh Tenggara
Ada dua istilah yang sering dikacaukan pemakainnya, yaitu ragam dan dialek bahasa. Ragam bahasa adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan kebutuhan penuturnya. Maka, ragam bahasa dapat dibedakan menjadi bahasa lisan dan tulisan dan bahasa baku (benar) dan tidak baku (tidak benar). Bahasa baku digunakan dalam bentuk resmi dan bahasa tidak baku digunakan dalam bentuk tidak resmi. Contoh kosa kata baku dan tidak baku, seperti berikut ini:

Nomor Bahasa Baku Bahasa Tidak BAku
01 apotek apotik
02 zakat jakat
03 ijazah ijasah

Dialek adalah ciri-ciri sekelompok masyarakat di dalam berbahasa. Biasanya dialek ini terjadi pada satu bahasa yang digunakan oleh beberapa kelompok masyarakat yang tinggal pada tempat yang berbeda. Perbedaan itu dapat terjadi pada intonasi atau kosa kata. Contoh kosa kata yang berbeda seperti berikut ini:

Nomor Bahasa Gayo Lues Bahasa Gayo Lut Artinya
01 poen jantar sayur
02 bebalingen peluluken batas
03 lanih lemem lambat

Bahasa daerah yang berkembang di Aceh Tenggara dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pertama, bahasa daerah asli Provinsi NAD, yaitu bahasa Aceh, Alas, Gayo, dan Singkil. Kedua, bahasa daerah yang berasal dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat, yaitu bahasa Batak Toba, Batak Karo, dan Padang.
Bahasa daerah Batak Toba dan Batak Karo masuk menjadi bahasa daerah di Aceh Tenggara karena sebagian wilayah Aceh Tenggara penduduknya dari suku Batak Toba dan Batak Karo dan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing.

Bahasa daerah Padang berkembang di Kabupaten Gayo Lues, karena banyak para pedagang dari Sumatera Barat dan tinggal menetap di Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues. Dialek bahasa Padang di Blangkejeren sudah banyak dipengaruhi bahasa Gayo. Sehingga dapat disebut sebagai bahasa Padang dialek Blangkejeren.

III. Fungsi Bahasa Daerah di Aceh Tenggara
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa di Kabupaten Aceh Tenggara terdapat beberapa ragam bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat. Namun uraian tentang fungsi bahasa daerah, penulis hanya menguraikan fungsi bahasa Gayo. Hal ini terjadi karena keterbatasan waktu, halaman kertas kerja ini, dan kemampuan penulis.

Secara umum ada empat fungsi bahasa untuk penuturnya. Pertama, untuk keperluan praktis yaitu bahasa Gayo digunakan sebagai alat berkomunikasi untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Contoh:
Ama : Kuhi male kam?
Ine : Male beluh munango aih.
Ama : Enti lanih, aku peh male beluh entong koro.
Ine : Bohmi

Terjemahannya:
Ayah : Mau kemana?
Ibu : Mau pergi mengambil air.
Ayah : Jangan terlalu lama, saya pun mau pergi mencari kerbau.
Ibu : Ya.

Kedua, sebagai bahasa ilmu pengetahuan yaitu bahasa Gayo digunakan untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kemauan baik untuk bahasa buku maupun bahasa dalam pidato atau orasi.

Contoh:
Tenironni itik kul kire aih.Tenironni kedih muah kire kayu.Tenironni koro enti naeh ara siut urum telong.Tenironni manuk enti ara bedil urum senapan.Tenironni iken enti ara naeh racun, bum, urum strum.Teniron ni depik urum gegaring. Enti naeh ara illegal fishing.Teniron ni akang urum noang. Enti naeh ara illegal hunting. Teniron kedih urum imo. Enti naeh ara illegal logging.




Terjemahannya kira-kira.

Permintaan bebek supaya air banjir. Permintaan monyet supaya kayu berbuah. Permintaan kerbau supaya jangan ada pembakaran. Permintaan burung supaya jangan ada senapan angin. Permintaan ikan supaya jangan ada bom, racun, strum. Permintaan depik dan jurung supaya jangan ada illegal fishing. Permintaan rusa sama anoa supaya jangan ada illegal hunting. Permintaan monyet sama siamang supaya jangan ada illegal logging.

(Cuplikan pidato saya pada acara tepung tawar tiga bupati di Asrama Haji Medan)

Ketiga, bahasa Gayo untuk mewariskan budaya dari generasi ke generasi berikutnya. Artinya apa saja yang telah ditulisakan dengan bahasa Gayo dapat berfungsi untuk menyampaikan kepada siapa saja yang akan membaca dan mempelajarinya pada masa yang akan datang.

Contoh:
Si opat mukawal, si pitu mudenie, si opat belas mujajahan.
Terjemahannya:
Raja yang empat memiliki pengawal, yang tujuh memiliki kawasan, dan yang empat belas memiliki kekuasaan.
dan
Inget ari si opat, atur ari si pitu, resam ari empat belas, peraturen ari reje. Terjemahannya:
Dasar adat dari yang empat, adat dari tujuh, tekhnis pelaksanaan adat dari yang empat belas, dan peraturan dari raja.

(Ismat Tantawi, Tesis 2006 : 33)

Keempat, bahasa Gayo untuk keperluan estetis. Dalam hal ini bahasa digunakan untuk mengungkapkan seni atau rasa keindahan. Misalnya, sebagai bahasa prosa, seperti berikut ini:

Ama Nuin, uwetmi-uwet, lo nge sintak pejer. Surakni imo nge bersesauten. Tukni kurik nge inger ari uken urum toa. Beberu nge ku jingki munutu tepung, hehe nge lancuk kedik nge mugagak. Sitetue nge turun kaih, munangkak aih semiyang. Cayani rara nge terang, ari loyangni rering.

Emis dih kengon ilen matame nome. Lagu sigere ipikirkam, tulu lomi we gere reraya. Ulung peh gere ilen ara, dengke ngeke iyugerkam ku sinamat rantamma. Ike nguk ibeli urum rom tangkuh mari reraya ni. Mane alas nge kujuelen, rege e nge kubelin ken baju ni kekanak ni. Oyapeh gere ilen genap, Nuin lah gere ilen demu.

(Cerpen Taun Kul, segera terbit)

Di samping sebagai bahasa prosa, bahasa Gayo dapat digunakan sebagai bahasa puisi dan sangat menarik serta menimbulkan kesan keindahan yang mendalam. Seperti berikut ini:

Sangkakala

Nge kukire ku rerangku si waluh
Nge kubilang ku jejariku si sepuluh
Nge kutulak urum kayu cabang
Nge rampat urum purih pitu

Nge kutangaki ku langit
Gere naeh mutawar
Nge kutungkui ku bumi
Gere naeh muuwak

Ketier nge ku kuen
Usaha nge ku kiri
Gere naeh musulih

Nge emeh bang umur kati mate
Nge emeh bang petemun kati cere

Halal kene ukum
Ikutuk ike ibueten
Kotek ipenge
Hejep ijeleni

Tapeh ari rapat
Nge jerohan musirang

(Isma Tantawi, Majalah Lentayon Edisi 03 2007 : 12)

Bahasa Gayo dapat juga digunakan sebagai bahasa didong Gayo Lues. Seperti berikut ini:

Resik, rese, kono, kinte, nyerah, berguru, naik rempele. Isini waih aunen kunul kinte i batang ruang bumi bulet cerak berakah imai ku umah, urumen sudere. Ujen muasal, angin muusul, perbueten muasaliyah. Asalni uren ari kedut asalni angin ari simangsimut, asalni rumput jarum-jemarum, asalni kaum Edem urum Hawa

(Idris Cike, Didong: 2004:2)
Gih ara naeh lelawah peregang i tengelni kite, gih ara naeh beye pelintang i lahni dene. Nge geh kami mununungen kata si sara patah, belo si sara rilah, kacu si sara keping, kapur si sara pilet, pinang si sara taka.

(Ramli Penggalangan, Didong 2004 : 1)

Bahasa Gayo sebagai bahasa didong Lut seperti berikut ini:

Kati minah
Ke we ari Bintang
Buette salah
Nusuhi gule
……………………

(Didong, Grouf KKA)

Bahasa Gayo sebagai bahasa dalam lagu pop, seperti berikut ini:

Janyi

Lau gelap kao kusuluhen
Lau uren kao kupayugen
Betapeh rupen gere we mujadi

Sana… sana ken salahku ngiku
Sana ken dosaku
Kati akire taring ko aku

(Album Uren)

Bahasa Gayo sebagai lagu rock, seperti berikut ini:

A… nge mokote kite sara umah
Masih ara gere ilen terang
………………………………
(Nama Pengarang Tidak Saya Ketahui)

Bahasa Gayo sebagai bahasa lagu dangdut, seperti berikut ini:

Rempate…
Murense kisah urum janyi…
O…Ate…
Akhire ken beje ni bumi…

Sawah ko peh sire ne mulo salamku…
Ku ulung ni kayu si mergak ijo…
Kiding remalan suntuk museltu
Nasipni tubuhku tuahni rembage…
…………………………………
(Ramlah, Album Rempate)


IV. Penutup

Kabupaten Aceh Tenggara, termasuk Kabupaten Gayo Lues, terdapat beberapa suku (etnis). Masing-masing suku memiliki bahasa daerah (bahasa ibu). Masing-masing bahasa daerah memiliki ciri-ciri tersendiri dan bahasa daerah dapat digunakan penuturnya untuk mengungkapkan pikiran, perasan, dan kemauan dalam berbagai bentuk. Namun untuk memaksimalkan penggunaan bahasa daerah masih diperlukan pembinaan lebih awal, seperti menerapkan kurikulum muatan lokal untuk sekolah SD, SMP, dan SMA sederajat, penerbitan buku dan kamus atau pelatihan-pelatihan lainnya.




























BIODATA
Drs. Isma Tantawi, M.A.
Lahir Pada Tanggal 07 Pebruari 1960
Di Kampung Mangang, Kecamatan Rikit Gaib
Kabupaten Gayo Lues Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
Tel: (061) 8225019 HP: 08126543562 FAX :061-8215956

Pendidikan
- SD Negeri Mangang, tahun 1973
- SMP Negeri Blangkejeren, tahun 1977
- SMA Negeri Kutacane, tahun 1980
- Sarjana Sastra USU, tahun 1985
- Masters of Art Universiti Sains Malaysia, tahun 2006

Pengalaman Pekerjaan
- Kepala SMA Dwitunggal Medan (1988-1990)
- Kepala SMA Berdikari Medan (1990-1991)
- Kepala STM Medan Area Medan (1991-2007)
- Kepala SMA Mayjend Sutoyo Medan (1994-2005)
- Kepala STM Mayjend Sutoyo Medan (1994-2005)
- Kepala SMP Mayjend Sutoyo Medan (2001-2005)
- Dosen Universitas Darmawangsa (2002-2007)
- Dosen Tamu Kolej Sentral Kuala Lumpur (2005-2007)
- Dosen Tetap Fakultas Sastra USU (1986-2008)
- Dosen Universitas Terbuka (2000-2008)

Hasil Karya
- Harapan dan Kenyataan Organisasi Gayo, Naskah Seminar, 1992
- Kumpulan Puisi “ Gayoku Sayang “ , 1994
- Pincipta Syair Kaset “ Kalam Janyi ”, 2000
- Asal-usul dan Karakter Suku Gayo, Naskah Seminar, 2000
- Budaya Politik Kita, Naskah Seminar, 2000
- Didong Gayo Lues: Yang Terlupakan dari Kaki Gunung Leuser, Naskah Seminar Internasional 2005
- Adat Perkawinan Suku Gayo Lues, Naskah Seminar Nasional, 2005
- Didong Gayo Lues: Satu Analisis Pemikiran Masyarakat Gayo, 2006
- Didong: Analisis Keindahan Bahasa dan Fungsi Sosial, Jurnal Ilmiah “Logat”, 2006
- Dialek dan Fungsi Bahasa Daerah di Aceh Tenggara, Naskah Seminar, 2007
- Orientasi dan Sejarah Suku Gayo, Naskah Seminar, 2008
- Pemikiran Islam Dalam Sastra Tradisi, Jurnal Ilmiah “Logat”, 2008
- Buku Pilar-Pilar Kebudayaan Gayo Lues, Segera Beredar !
- Kumpulan Puisi “Tenah” Segara beredar

Pelatihan

- Pelatiham Penelitian, , USU, 1998
- Pelatihan Penulisan di Jurnal, USU,2000
- Peningkatan Manajemen Mutu, USU, 2001
- Peningkatan Manajemen Sekolah, Diknas, 2004
- Applied Approach (AA), USU, 2008

1 komentar: