Senin, 25 Mei 2009

STRATEGI MENDONGENG

Oleh: Drs. Isma Tantawi, M.A.
Staf Pengajar Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara


A. Pendahuluan

Tidak ada seorang kritikus (ahli sastra) pun yang dapat menentukan secara pasti, kapan sastra itu lahir. Yang pasti sastra itu sudah ada sejak manusia ada di perrmukaan bumi ini karena sastra merupakan peradaban manusia itu sendiri. Perkembangan sastra sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia. Bagaimanapun primitif atau terasingnya manusia secara pribadi atau kelompok manusia tetap mempunyai pengungkapan seni. Hal ini terbukti, bahwa pada setiap etnis (suku) memiliki pengungkapan seni. Misalnya, suku Melayu terkenal dengan tari “Serampang Duabelasnya”, suku Batak terkenal dengan tari “Tortornya”, suku Jawa terkenal dengan seni “Wayangnya”.

Dongeng adalah salah satu jenis cerita yang paling awal berkembang pada kehidupan manusia. Hal ini bisa dipahami karena dongeng sudah menjadi pelipur lara atau pengantar tidur yang dituturkan oleh orangtua kepada anaknya atau kakek nenek kepada cucunya. Sang penutur dapat membuat cerita sendiri atau meniru cerita penutur lain dengan menambah atau mengurangi materi cerita sesuai dengan keperluan pendengarnya.

Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas tentang dongeng, tipe-tipe dongeng, bahasa dongeng, fungsi mendongeng adalah serbagai berikut:


B. Cerita Dongeng

Dongeng adalah cerita tentang hal-hal yang aneh dan tak masuk akal, berbagai keajaiban dan kesaktian. Pengarang membuat cerita berdasarkan fakta hayalan belaka, tanpa dapat diterima oleh akal atau fikiran yang logika. Misalnya, fakta hayalan berlaku seperti tokoh cerita (perubahan bentuk dan karakter tokoh cerita), jalan cerita pertukaran atau penggabuangan dua alam), lokasi cerita (alam hayal atau alam nyata).

Dongeng sangat berbeda dengan novel. Novel dibuat pengarang berdasarkan fakta hayalan, namun fakta yang disampaikan dapat diterima oleh akal dan memiliki relavansi dengan kehidupan dunia nyata. Bahkan tidak jarang, seorang pengarang mengadopsi kisah dunia nyata dengan menambah variasi dan kreasi, sehingga menarik untuk dinikmati.

Apabila kita lihat dari isi cerita, dongeng itu dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu:
1. Mite ialah cerita dongeng yang berisi tentang makhluk halus dan dewa-dewa.
2. Sage ialah cerita dongeng yang berisi tentang kesaktian dan kebijaksanaan seorang pahlawan.
3. Legenda ialah cerita dongeng yang berisi tentang asal-usul atau sejarah terjadinya alam.
4. Fabel ialah cerita yang menggunakan pelakunya dari binatang dan binatang dapat berbicara seperti manusia.

B. Bahasa dalam Cerita Dongeng

Karya sastra merupakan salah satu wahana (termpat) untuk mengungkapkan seni dengan menggunakan alat bahasa. Bahasa merupakan bahan baku untuk menciptakan karya sastra. Sastrawan (penyair) memilih dan menyusun kata atau kalimat untuk mengungkapkan perasaan (seni). Oleh sebab itu, bahasa karya sastra sangat berbeda dengan bahasa karya ilmiah. Bahasa sastra sangat tergantung kepada rasa emosional pengarang yang diungkapkan melalui gaya-gaya bahasa sehingga dapat melahirkan seni dan inspirasi yang berbeda-beda.
Bahasa dalam karya ilmiah adalah bahasa yang diikat oleh aturan-aturan umum dalam satu ilmu bahasa. Para penulis karya ilmiah harus tunduk dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di dalam satu ilmu bahasa. Dengan demikian, bahasa yang digunakan mengandung makna tunggal dan tidak memiliki penapsiran yang berbeda serta terpelihara dari makna ganda. Sehingga penulis dapat menyampaikan satu makna dan pembaca dapat menerimanya sesuai dengan yang dimaksudkan penulis.

Karya sastra merupakan salah satu karya seni yang berbeda dari karya seni lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari alat yang digunakan. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa karya sastra dikomunikasikan dengan alat bahasa sedangkan karya seni lainnya disampaikan dengan alat yang lain. Seni tari disampaikan dengan gerak, seni suara disampaikan dengan suara (vokal dan instrumental), seni patung/pahat disampaikan dengan bentuk, dan seni lukis disampaikan dengan garis dan warna.

Seorang pengarang karya sastra (dongeng) ingin berbagi rasa dengan orang lain. Pengarang memilih bahasa sebagai mediumya. Bahasa disusun sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pembaca dapat memahaminya sesuai dengan pengalaman batin atau kemampuan menganalisis fakta bahasa yang digunakan.

C. Manfaat dan Kenikmatan dalam Dongeng
Dalam sebuah karya sastra (dongeng) di dalamnya terdapat manfaat dan kenikmatan. Manfaat adalah sesuatu pesan atau amanat yang ingin disampaikan pengarang (penutur) kepada pembaca. Pesan ada yang disampaikan secara langsung dan tidak langsung. Pesan langsung dapat kita lihat melalui materi dialog-dialog di dalam cerita dan pesan tidak langsung dapat dilihat dari proses penyelesaian masalah di dalam satu adegan atau episode.

Kenikmatan dapat kita rasakan, pada saat kita membaca cerita dongeng atau menonton sebuah tayangan sinetron. Misalnya, sinetron Intan atau Cinta Fitri. Pengarang menampilkan karakter tokoh seolah-olah benar-bennar hidup atau menampilkan lakon seolah-olah benar terjadi. Kita sebagai pembaca atau penonton seperti benar-benar melihat kejadian secara nyata.

D. Fungsi Dongeng
Seperti kita ketahui, karya sastra berasal dari masyarakat dan untuk masyarakat. Maka, kehadiran karya sastra (dongeng) memiliki fungsi bagi masyarakat itu sendiri. Fungsinya adalah untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan kepada pembaca atau penonton. Nilai-nilai pendidikan yang dapat diambil seperti nasihat, sopan santun, moral, keagamaan, kebudayaan, dan lain-lain.
Dalam cerita dongeng yang sudah disusun oleh penutur, sudah terdapat nilai-nilai pendidikan. Pembaca atau penonton dapat memahami melalui dialog-dialog di dalam satu adegan atau episode atau melalui jalan cerita secara keseluruhan.

E. Kesimpulan
Setelah dilakukan kajian secara ringkas dan sederhana ini dapat diambil beberapa kesesimpulan seperti berikut ini:
1. Dongeng adalah salah satu karya sastra yang paling awal berkembang pada kehidupan mayarakat.
2. Pada saat mendongeng, penutur dapat menuturkan karya sendiri dan karya orang lain dengan mereubah (alur cerita, gaya bahasa, lokasi cerita) sesuai dengan kebutuhan penonton.
3. Dongeng adalah cerita aneh dan tak masuk akal, tetapi mengandung manfaat dan hiburan bagi pembacanya.
4. Dongeng digunakan penutur untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan, seperti: nasihat, sopan santun, moral, keagamaan, kebudayaan, dan lain-lain.


F. Bahan Bacaan

Braginsky, V.I. (1984) Erti Keindahan dan Keindahan Erti Dalam Kesusasteraan Melayu Klasik (Terjemahan). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Hauser, Arnold. (1982) The Sosiology of Art. London: The Universiti of Chicago
Press.
Hasan Sadily. Tanpa Tahun. Ensiklopedi Indonesia II. Jakarta:Ichtiar Baru.
Sohaimi Abdul Aziz. (2000) “Estetika Kesusasteraan Melayu: Satu Pandangan Muhammad Haji Saleh”. Pulau Pinang: Persidangan Kefahaman Budaya Ke IV.
Sujono Dirjosisworo. (1985) Sosiologi Pengantar Untuk Masyarakat Indonesia Bandung: Alumni.
Sulaiman Hanafiah. (1984) Sastera Lisan Gayo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Umar Yunus. (1981) Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Gramedia.
Wadjiz Anwar. (1980) Falsafah Estetika. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Warton, Thomas. (1974) History of English Poetry. London: The Universiti of Chicago Press.
Wellek, Rene. (1995) Teori Kesusastraan (Terjemahan). Jakarta: PT Gramedia.


Disampaikan dalam PELATIHAN MENDONGENG TERHADAP SISWA MADRASAH ALIYAH
YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM (YAPI)JL. MEDAN KISARAN KM 101 SIPARE-PARE
KECAMATAN AIR PUTIH KABUPATEN ASAHAN, 5 SEPTEMBER 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar